Drag Race Menurut Fisika dan Kenyatannya di Jalan Raya

Drag Race. Tentu sudah tidak asing lagi jika mendengar istilah yang satu ini. Yaa biasanya saya menyebutnya dengan “babalapan karo konco” :b ehehe. Ah sudahlah, kali ini saya akan membahas Drag Race melalui pendekatan yang “agak” ilmiah #eeaaa.

drag racing bike edition, game yang bisa dijadikan “simulasi” drag race motor :b ehehe

Jika anda menonton balapan Drag Race di pinggir jalan, via tv, ataupun via youtube. Maka anda akan melihat 2 orang mengendarai Sepeda Motor yang saling beradu cepat. Dan begitu salah satunya mencapai garis finish terlebih dahulu anda akan berpikir bahwa spesifikasi yang lebih dahulu finish pastilah lebih tinggi dibandingkan dengan yang terlambat memasuki garis finish. Padahal? Belum tentu kenyataannya demikian. Yang paling berpengaruh dalam drag race adalah kemampuan sang rider memacu tungggangannya serta bagaimana para mekanik “meracik” performa sepeda motor secara optimal dan menyeluruh.

Okelah, sebagai contoh. Misalkan ada 2 motor yang akan diadu di trek sepanjang 200 meter dan 400 meter, yaitu A dan B. Kemampuan dan bobot masing-masing ridernya hampir setara. Data hasil dynotest menunjukan bahwa motor A mempunyai daya maksimum 19 horsepower pada 9000 rpm dan torsi maksimum 15 N/m2 pada 7000 rpm. Sedangkan motor B mempunyai daya maksimum sebesar 21 horsepower pada 10000rpm dan torsi maksimum 15 N/m2 pada 9000 rpm. Bobot kedua motor hanya terpaut 1 kilogram.

Melihat data hasil dynotest, sekilas tampak motor B lebih superior dibanding motor A. Namun apakah kenyataannya motor B bisa mengalahkan motor A dengan mudah? Belum tentu. Okelah, kita lanjutkan~

Ketika motor A di test run diperoleh data sebagai berikut:

Dan motor B sebagai berikut:

 

Jika kedua tabel digabungkan, maka hasilnya akan seperti ini:

 

Lalu data tersebut kita olah lebih lanjut supaya lebih jelas. Pertama-tama ubah kecepatan dalam tabel dari kilometer/jam (km/jam) menjadi meter/sekon (m/s). Caranya, kalikan dengan 1000 lalu dibagi dengan 3600 (1 kilometer = 1000 meter dan 1 jam = 3600 detik).

 

Nah, dari tabel di atas, kita bisa mengolah datanya lebih lanjut (lagi) untuk mengetahui siapa yang menang. Caranya? Cari tahu jarak yang sudah ditempuh oleh masing-masing motor tiap detiknya. Yaitu dengan mencari luas daerah di bawah kurva yang tertera di tabel. (ingat;  jarak = kecepatan x waktu). Kendalanya adalah daerah di bawah kurva tidak berbentuk seperti bangun 2 dimensi yang baku, tapi bisa dicari harganya dengan membagi daerah di bawah kurva untuk tiap sekonnya, sehingga diperoleh potongan-potongan trapezium dan segitiga (bisa juga sih pake integral, tapi ente mau ngitungnye? Hayo…).  Okelah langsung aja, cekidot~

Motor A

0-1    sekon = 5,6 m/s; jarak yang ditempuh = 5,6m/s x 1s : 2 = 2,8 meter

0-2    sekon= 11,3 m/s; jarak yang ditempuh = ((11,3 + 5,6)m/s x 1s : 2) + 2,8m = 11,3 meter

0-3    sekon = 16,6 m/s; jarak yang ditempuh = ((16,6 +11,3)m/s x 1s :2) + 11,3m = 25,3 meter

0-4   sekon = 20,8 m/s; jarak yang ditempuh = ((20,8 + 16,6) m/s x 1s :2) + 25,3m = 44 meter

0-5   sekon = 25 m/s; jarak yang ditempuh = ((25 + 20,8)m/s x 1s : 2) + 44 meter = 66,9 meter

0-6   sekon = 27,8 m/s; jarak yang ditempuh = ((27,8 + 25)m/s x 1 s : 2 ) + 66,9m = 90,3 meter

0-7   sekon = 30,1 m/s; jarak yang ditempuh = ((30,1 + 27,8)m/s x 1s : 2) + 90,3m = 119,2 meter

0-8   sekon = 32,5 m/s; jarak yang ditempuh = ((32,5 + 30,1)m/s x 1s : 2) + 119,2m = 150,5 meter

0-9   sekon = 34,4 m/s; jarak yang ditempuh = ((34,4 + 32,5)m/s x 1s : 2) + 150,5m =184 meter

0-10           sekon = 35,6 m/s; jarak yang ditempuh = ((35,6 + 34,4)m/s x 1s : 2) + 184m = 219 meter

0-11           sekon = 36,1 m/s; jarak yang ditempuh = ((36,1 + 35,6)m/s x 1s : 2) + 219m = 254,9 meter

0-12           sekon = 36,4 m/s; jarak yang ditempuh = ((36,4 + 36,1)m/s x 1s : 2) + 254,9m = 290,3 meter

0-13           sekon = 36,7 m/s; jarak yang ditempuh = ((36,7 + 36,4)m/s x 1s : 2) + 290,3m = 327 meter

0-14           sekon = 36,9 m/s; jarak yang ditempuh = ((36,9 + 36,7)m/s x 1s : 2) + 327m = 363,8 meter

0-15           sekon = 37,2 m/s; jarak yang ditempuh = ((37,2 + 36,9)m/s x 1s : 2) + 363,8m = 410,9 meter

Data di detik 16 dan seterusnya tidak usah dihitung, karena sudah melampaui batas trek 400 meter.

Motor B

0-1   sekon = 5 m/s; jarak yang ditempuh = ((5 + 0)m/s x 1s : 2) + 0m = 2,5 meter

0-2   sekon = 10 m/s; jarak yang ditempuh = ((10 + 5)m/s x 1s : 2) + 2,5m = 10 meter

0-3   sekon = 14,7 m/s; jarak yang ditempuh = ((14,7 + 10)m/s x 1s : 2) + 10m = 22,3 meter

0-4   sekon = 19,5 m/s; jarak yang ditempuh = ((19,5 + 14,7)m/s x 1s : 2) + 22,3m = 39,4 meter

0-5   sekon =  23,9 m/s; jarak yang ditempuh = ((23,9 + 19,5)m/s x 1s : 2) + 39,4m = 61,1 meter

0-6   sekon = 28,3 m/s; jarak yang ditempuh = ((28,3 + 23,9)m/s x 1s : 2) + 61,1m  = 87,2 meter

0-7    sekon = 31,6 m/s; jarak yang ditempuh = ((31,6 + 28,3)m/s x 1s : 2) + 87,2m = 117,1meter

0-8   Sekon = 35 m/s; jarak yang ditempuh = ((35 + 31,6)m/s x 1s : 2) + 117,1m = 150,4 meter

0-9   Sekon = 37,2 m/s; jarak yang ditempuh = ((37,2 + 35)m/s x 1 s :2) + 150,4m = 186,5 meter

Data di detik ke-10 dan seterusnya tidak usah dihitung karena motor B sudah menyalip motor A di detik ke-9. Jadi, dipastikan baik di trek 200 meter maupun 400 meter motor B menang atas motor A.

Dari data di atas, kita bisa melihat bahwa motor A sempat unggul di awal race, meskipun di detik ke-8 motor B sudah nyaris sejajar dengan motor A dan kemudian motor B melesat di depan motor A. Weleh, nggak apa-apa lah, setidaknya masih sempat ngacir duluan :b lumayan~ (perhatikan detik ke-4 dimana motor B sempat unggul 4,6 meter didepan motor A).

….

Baeklah, tadi adalah contoh bagaimana sepeda motor dengan spesifikasi lebih rendah bisa unggul meskipun pada akhirnya disalip juga. Dan, mengingat realita di jalanan cenderung bersifat stop and go serta jarang sekali kita bisa menemukan trek kosong di atas 200 meter, maka kasus sepeda motor yang berspesfikasi lebih tinggi disalip oleh yang lebih cupu sangat mungkin terjadi. Anda mungkin tidak percaya motor 150 cc dengan modifikasi seadanya bisa membuat repot  motor 250cc yang knalpotnya ada dua, namun saya pernah menyaksikannya sendiri. Ini terjadi karena karakter si motor 250cc tidak cocok dengan trek alias kondisi jalanan saat itu, otomatis performanya tidak maksimal, sedangkan si 150cc justru ngacir karena itu memang treknya dan disitu performanya bisa di show off secara maksimal. Hmm… So, learn the track and tune up your bike! Then, you can get the best performance~

Okelah… Sekian postingan dari saya kali ini, mohon maaf apabila ada kesalahan. Semoga bermanfaat~

About these ads

8 gagasan untuk “Drag Race Menurut Fisika dan Kenyatannya di Jalan Raya”

  1. jdi inget nonton adu drag race di youtube antara skutik bore up vs ducati,yg menang mlah skutik bore up…
    Bobot jga pengaruh ya….

  2. sangat ilmiah bro :D

    memang motor berpower besar hampir selalu slip roda belakang pada saat start, so tenaga tidak bisa dimaksimalkan untuk lebih melekat pada trek… begitu juga sebaliknya, motor berpower kecil lebih bisa melekat pada trek karena roda belakang tidak slip…
    secara… motor berpower kecil sudah ngacir.. motor berpower besar baru nyusul… tapi pada akhirnya ya tetap yang berpower besar yang lebih unggul, tentunya dengan lintasan yang lebih panjang…

    1. Terimakasih~

      Grip juga faktor yang harus diperhatikan. Tapi masalah slip ban pada mesin berpower besar bisa dicegah dengan penggunaaan gear 1 yang agak berat.
      Yep. Power nggak bisa bohong~ tapi kembali pada settingan/tuning gear dari mekanik juga. Kalo cocok sama trek, dijamin ngacir~

Silahkan berkomentarrrr~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s