Duel Pabrikan S | Skywave vs Shogun SP

Pemirsa speedlovers maupun non-speedlovers dimanapun anda berada, pada kesempatan kali ini blog ecek-ecek yang pembacanya sedikit ini akan mengulas komparasi performa dari kedua motor 125cc keluaran Suzuki. Kedua motor ini jelas berbeda genre, yang satunya bebek berkopling, dan yang satunya lagi matic. Persamaan kedua motor ini terletak pada umurnya, sama-sama keluaran 2009, dan juga dibeli dari dealer yang sama :b

IMG_20141117_055717

Spesifikasi Suzuki Skywave

Kode produksi: UW125

Power Maksimum: 9,6 PS pada 8000 rpm

Torsi Maksimum: 0,86 Nm pada 6500 rpm

Bobot: 113 kg

*perawatan seadanya dan tidak mengalami modifikasi apapun27261_117490481598668_5284131_naa

 

Spesifikasi Suzuki Shogun SP

Kode produksi: FL 125 RCMD

Power Maksimum: 10 PS pada 8500 rpm

Torsi Maksimum: 0,96 Nm pada 6500 rpm

Bobot: 108 kg

*perawatan motor seadanya, menggunakan busi iridium (3 tahun nggak diganti) dan ban diperbesar (belakang 100/80, depan 90/80).


 

Duel Skywave vs SP ini sebenarnya hanyalah bersifat iseng. Kebetulan beberapa waktu yang lalu ane berkesempatan meminjam Skywave versi NightRider II milik rekan yang namanya sudah sangat sering disebut di blog ini, dan kebetulan juga adik ane yang menunggangi SP sedang leyeh-leyeh di akhir pekan. Yowis daripada nggak ada kerjaan, ane dan adik ane langsung menuju TKP. TKP yang digunakan berada di lokasi yang dirahasiakan :b yang pasti faktor keamanan sudah ane pikirkan. Di TKP nyaris nggak mungkin ada orang nyebrang karena TKP-nya berupa jembatan. Arus lalu lintasnya pun relatif sepi terutama ketika lampu lalu lintas di ujung jalan sedang menyala merah.

ronde 1

Ane yang berbobot 55 kg menunggangi skywave, dan adik ane yang berbobot 57 kg menunggangi SP. Kite berjejer dalam keadaan berhenti dan menunggu sampai kondisi aman. Begitu aman, sesuai dengan aba-aba, kite langsung betot gas. SP dan Skywave meluncur bersamaan, akselerasi 0-40 km/jam untuk kedua motor nyaris seimbang. Pada kecepatan sekitar 45 km/jam Skywave sedikit merangsek ke depan karena SP mesti shifting gear 1 ke 2. masuk kisaran 60-70 km jam yang ane rasa sebagai range kecepatan dimana power skywave bener-bener keluar, ternyata malah mampu diimbangi oleh SP, kedua motor kembali sejajar. Masuk ke kisaran 75 km/jam saat SP shifting gear 2 ke 3, Skywave mulai tertinggal. Dan selanjutnya SP pun semakin menjauh meninggalkan Skywave, Pada ronde pertama ini Skywave maupun SP nyaris menyentuh 110 km/jam.

ronde 2

Pada ronde kedua ini kite lakukan start dari kondisi berjalan pada kecepatan 50 km/jam. Sesuai aba-aba, setelah melewati rambu… (apa yaa… ane lupa) kite langsung gaspol. Skywave berhasil merangsek sedikit sampai kisaran 70 km/jam. Setelah itu SP berhasil menyusul dan ngacir meninggalkan Skywave dengan jarak yang lumayan jauh, lebih jauh dibanding ronde 1. Di kecepatan tinggi tampak bobot Skywave yang lebih berat memberikan keuntungan berupa kestabilan esktra, SP yang berada di depan tampak agak goyang-goyang sementara Skywave anteng-anteng sadja, padahal SP sudah mengalami upgrade ban depan maupun ban belakang, tapi ternyata masih kalah anteng sama matic gambot ini :b Pada ronde ini baik SP maupun Skywave mencapai 110 km/jam.

ronde 3

Kekalahan di dua ronde sebelumnya membuat ane sedikit berpikir bagaimana cara supaya Skywave nggak kalah lagi atau seenggaknya nggak kalah jauh-jauh amat. Okelah, jurus terlarang mesti dilakuken –, nguehehehe… Ketika start ane langsung gaspol, agak nunduk dikit. Dan Skywave pun berhasil unggul 1/2 body! (ini gap paling sukses dibanding 2 ronde sebelumnya). Namun ketika SP shifting gear 2 ke 3 Skywave berhasil dijejeri kembali. Dan ketika SP mulai merangsek ke depan, ane langsung mengarahkan Skywave untuk nempel tepat di ekor SP, Slip streaming gitu. Tapi Slip streaming pun gagal pemirsa… SP kembali ngacir meninggalkan Skywave. Pada ronde ketiga ini kedua motor berhasil menyentuh 110 km/jam.

Analisa performa pasca duel…

Diatas kertas kedua motor powernya hanya terpaut sedikit, dimana SP unggul 0,4 PS dibanding Skywave. Namun power Skywave diperoleh 500 rpm lebih rendah dibanding SP. Sementara itu torsi maksimum Skywave 0,1 Nm lebih rendah dibanding SP, torsi kedua motor diperoleh pada 6500 rpm. Bobot Skywave pun lebih berat 5 kg dibanding SP meski SP juga sudah dimodifikasi dengan ban berukuran lebih besar. Sementara itu untuk mengimbangi kenaikan ukuran ban, SP sudah menggunakan busi iridium meski usianya sudah 3 tahun belum diganti. Ane yang menunnggangi Skywave memiliki bobot 2 kg lebih ringan dibanding adik ane, oiya, tukar-motor tidak dilakukan karena adik ane kurang confident kalo naek matic, kalo di kecepatan tinggi berasa melayang katanya.

Kombinasi spesifikasi dan berbagai faktor diatas menghasilkan sajian duel yang cukup seru dan berimbang. Dimana Skywave selalu berhasil mengimbangi bahkan sedikit unggul pada range kecepatan 0-70 km/jam. Transmisi automatic Skywave membuktikan tajinya di range kecepatan ini, SP yang memiliki transmisi full clutch alias pake kopling pun kerepotan kalo mesti meladeni Skywave. Namun seperti kebanyakan matic, pada kecepatan tinggi performa Skywave makin ngedrop dan mesti mengakui keunggulan SP. Saking nge-dropnya bahkan slip-streaming pun nggak cukup membantu. Padahal kedua motor powernya hanya terpaut 0,4 PS. Pada kasus NMP vs CB150R yang terpaut sekitar 3 PS sadja NMP masih mampu ngintilin tepat di ekor CB dengan slip streaming. Lewat duel ini terbukti bahwa motor dengan transmisi automatic bagaimanapun memang memiliki kelemahan di kecepatan tinggi dibandingkan dengan motor bertransmisi manual.

Kesimpulan

Skywave lebih enak buat harian, tinggal tarik gas langsung ngacir. Untuk pemakaian sehari-hari untuk sekedar nempel atau bahkan ngalahin SP jelas bisa banget. Kestabilannya pun ane acungi jempol. Nggak kaya matic-matic kecil yang hobi goyang pas dibawa kenceng. Two thumbs up untuk Skywave. Sementara itu SP unggul dalam konsumsi bbm (lebih irit), lebih minim getaran, dan topspeed (lebih cepet dapet topspeednya dibanding Skywave). Anehnya ane merasa SP lebih lincah buat meliak-liuk di kemacetan ketimbang Skywave, akibat bobot dan dimensinya yang lebih kecil ketimbang Skywave, padahal pada umumnya matic lebih lincah kalo buat bermacet-macetan ria.

Okelah pemirsa, sekian post kali ini… mohon maaf nggak ada dokumentasi lengkap. Wong cuma komparasi iseng kok :b

 

Silahkan berkomentarrrr~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s